Tumbuhnya psikologi eksperimen dan awal psikologi modern
Tumbuhnya Psikologi Eksperimen dan Awal Psikologi Modern
1. perbedaan individu,penelitian awal mengenai system syaraf pusat oleh muller
Perbedaan individu adalah variasi dalam karakteristik fisik, perilaku, atau sifat antara satu individu dengan individu lainnya. Ini bisa mencakup perbedaan dalam sistem syaraf pusat seperti struktur otak, tingkat neurotransmitter, atau respons terhadap rangsangan tertentu. perbedaan individu itu sendiri adalah hasil dari kombinasi faktor genetik, lingkungan, pengalaman hidup, dan faktor-faktor lainnya. Selanjutnya yaitu mengenai sistem syaraf pusat. penelitian awal mengenai sistem syaraf pusat dilakukan oleh Johannes Peter Muller yang merupakan salah satu orang penting dalam ilmu saraf. Pada awal abad ke-19, Müller melakukan penelitian yang menyelidiki berbagai aspek pada sistem syaraf pusat, termasuk struktur otak dan fungsi sensorik dan motorik.
Contoh : refleks masing-masing orang yang berbeda-beda
2. pendapat von Helmholtz
Salah satu karyanya yang relevan adalah dalam bidang fisiologi. Helmholtz melakukan penelitian tentang sistem saraf dan sensori manusia. Dia menekankan bahwa setiap individu memiliki sistem sensori yang unik, dan perbedaan dalam sistem ini dapat memengaruhi persepsi dan pengalaman sensori seseorang. Dalam bukunya yang terkenal “Handbuch der Physiologischen Optik” (Handbook of Physiological Optics), Helmholtz membahas bagaimana perbedaan dalam mata manusia dapat memengaruhi penglihatan individu.
3. pendapat ewald hering
Ewald Hering adalah seorang ilmuwan Jerman yang terkenal karena kontribusinya dalam bidang psikologi dan ilmu saraf. Salah satu kontribusi paling terkenalnya adalah Teori Warna Hering, yang merupakan salah satu teori warna yang paling berpengaruh dalam sejarah psikologi warna. Teori ini menggambarkan bagaimana manusia memproses warna dan mengapa kita melihat warna sebagaimana yang kita lihat.
Pendapat utama Ewald Hering dalam Teori Warna Hering adalah konsep tiga pemasangan warna dasar yang saling bertentangan:
1. Pemasangan Merah-Hijau: Hering berpendapat bahwa ada pemasangan antara warna merah dan hijau, di mana merah dan hijau dianggap sebagai warna saling bertentangan. Jadi, ketika merah hijau diaktifkan bersamaan, kita melihat warna abu-abu atau netral.
2. Pemasangan Biru-Kuning: Hering juga menyatakan bahwa ada pemasangan antara warna biru dan kuning, di mana biru dan kuning dianggap sebagai warna saling bertentangan. Ketika biru dan kuning diaktifkan bersamaan, mereka dapat saling membatalkan atau menghasilkan netral.
3. Pemasangan Hitam-Putih: Selain pemasangan warna dasar, Hering juga menyatakan bahwa hitam dan putih adalah warna yang bertentangan. Ini berarti hitam dan putih tidak hanya dianggap sebagai tingkat kecerahan yang berbeda tetapi juga memiliki hubungan yang lebih kompleks dalam persepsi warna.
Contoh : penglihatan mata terhadap warna,buta warna dan lain-lain
Paul Broca (1824-1880)
Broca adalah tokoh penting pada bidang studi
fisiologis otak.Studi tersebut berkembang dari
phrenology (Gall & Spurzheim),yakni satu-satunya
pendekatan yang berfokus pada otak disaat itu.
4. phrenology
Phrenology adalah teori yang telah lama dianggap sebagai pseudosains. Ini berpendapat bahwa karakteristik kepribadian dan kemampuan seseorang dapat diidentifikasi dengan mengukur bentuk permukaan kepala mereka. Namun, phrenology tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat, dan klaim-klaimnya telah dibantah oleh ilmu pengetahuan modern. Ini dianggap sebagai teori yang usang dan tidak valid dalam konteks ilmiah saat ini.
5. tumbuhnya psikologi eksperimen
Psikologi eksperimental tumbuh sebagai disiplin ilmu yang terpisah pada abad ke-19, dan ada beberapa tokoh utama yang berkontribusi pada perkembangan dan pendirian psikologi eksperimental sebagai bidang penelitian yang mandiri. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan psikologi eksperimental meliputi:
1. Wilhelm Wundt: Wilhelm Wundt sering dianggap sebagai bapak psikologi eksperimental. Pada tahun 1879, ia mendirikan laboratorium psikologi eksperimental pertama di Universitas Leipzig, Jerman. Wundt mendorong pendekatan ilmiah untuk memahami proses mental manusia melalui eksperimen dan observasi yang terkontrol.
2. Pendekatan Ilmiah: Psikologi eksperimental mendasarkan diri pada metodologi ilmiah yang ketat. Ini melibatkan pengumpulan data empiris melalui eksperimen, observasi, dan pengukuran untuk menguji hipotesis tentang proses mental dan perilaku manusia.
3. Penggunaan Instrumen: Pertumbuhan psikologi eksperimental juga dipengaruhi oleh pengembangan instrumen ilmiah yang lebih baik, seperti alat pengukur waktu, alat pengukur panjang gelombang, dan alat pengukur reaksi yang memungkinkan pengukuran yang lebih tepat dalam penelitian.
4. Interdisipliner: Psikologi eksperimental sering bekerja dengan disiplin lain, seperti fisika, biologi, dan statistik. Ini membantu memahami dasar fisik dan biologis dari proses mental.
5. Pengembangan Teori: Pengembangan teori dalam psikologi eksperimental membantu memberikan kerangka kerja untuk memahami hasil eksperimen dan data empiris. Ini membantu memahami prinsip-prinsip dasar yang mengatur proses mental dan perilaku manusia.
6. Penyebaran Internasional: Laboratorium psikologi eksperimental mulai didirikan di universitas-universitas di seluruh dunia, yang membantu menyebarluaskan pendekatan ilmiah ini ke berbagai budaya dan konteks.
Dengan kontribusi berbagai ilmuwan dan pengembangan metodologi eksperimental, psikologi eksperimental tumbuh dan menjadi salah satu cabang utama dalam psikologi modern yang fokus pada penelitian ilmiah tentang proses mental dan perilaku manusia.
6. awal psikologi modern oleh wundt
Wilhelm Wundt merupakan penggagas psikologi sebagai sebuah ilmu pendidikan formal. Wundt juga merupakan seseorang yang mendirikan labor psikologi pertama, menyunting jurnal pertama, dan yang pertama kali memulai sebuah eksperimen psikologi sains.
Wilhelm Wundt lahir pada 16 Agustus 1832 di Neckarau, Baden, Jerman. Wilhelm Wundt menghabiskan masa kecilnya di sebuah kota kecil di dekat Manheim, Jerman. Di masa kecilnya, Wundt sudah bermimpi untuk menjadi seorang penulis terkenal. Di sekolah, Wundt bukanlah seorang murid yang cemerlang, ia cenderung menghabiskan waktunya berimajinasi dibandingkan belajar sehingga dia gagal dalam studinya pada tahun pertama di Gymnastic. Meskipun Wundt terkesan tidak suka dengan sekolah, namun Wundt terus berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan ketertarikan intelektualnya, hingga akhirnya Wundt dapat menyelesaikan sekolahnya di umur 19 tahun dan mempersiapkan diri untuk pendidikan universitas.
Wundt memilih untuk menjadi seorang dokter dalam rangka mewujudkan mimpinya untuk bekerja di bidang sains dan membantu orang lain. Wundt mengambil pelatihan medis di University of Tubingen dan University of Heidelberg dalam ranah anatomi, fisiologi, fisika, pengobatan, dan kimia, namun akhirnya memutuskan untuk berfokus di ranah fisiologi.
Setelah menjalani studi dengan seorang fisiologi ternama, Johannes Muller, selama satu semester di University of Berlin, Wundt memutuskan untuk kembali ke Universitas of Heidelberg untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada tahun 1855.
Dari tahun 1880 sampai dengan tahun 1891, Wundt menulis hal- hal ethics, logis, dan sistematis tentang filosofi. Wundt juga menerbitkan edisi kedua dari Principles of Physiological Psychology pada tahun 1880 serta menerbitkan edisi ketiganya pada tahun 1887. Wundt menghabiskan waktu 10 tahun untuk mengkaji perkembangan tentang psikologi dan hal itu disebut juga sebagai “the most satisfying experience in his working life” (Wong, 2009).
7. pendapat Titchener serta pendekatan lainnya
E.B. Titchener adalah salah satu murid Wundt yang dianggap paling mendukung pandangan Wundt, meskipun sebenarnya banyak pandangan Wundt yang ditentangnya, dan akhirnya dia mengembangkan alirannya sendiri, structural psychology. Titchener berkebangsaan Inggris. Ia belajar di Oxford dalam bidang filsafat sebelumnya beralih ke fisiologi. Berdasarkan pengalamannya menterjemahkan buku Wundt ke dalam bahasa Inggris, Titchener tertarik pada ajaran Wundt dan pindah ke Leipzig untuk menjadi murid Wundt. Setelah menempuh pendidikan di bawah Wundt dan sempat mengajar sebentar di Inggris, Wundt pindah ke Amerika, mengajar di Cornell University hingga akhir hayatnya di tahun 1927. Selama masa tinggalnya di Amerika ini structural psychology yang dijalaninya menemukan tantangan pada aliran Psikologi lainnya yang khas Amerika, seperti fungsionalisme dan behaviorisme. Namun Titchener tidak terpengaruh kepada dua aliran besar tersebut dan tetap berpegang pada strukturalisme hingga akhir hayatnya.
Aliran strukturalisme mendasarkan diri pada konsep utama Titchener, yaitu sensation. Konsep utama ini membawanya kepada pertentangan dengan Wundt dan konsep apperceptionnya. Berbeda dengan apperception yang merupakan hasil kesimpulan, sehingga masih memungkinkan subyektivitas, sensation adalah hasil pengalaman langsung, sehingga lebih obyektif. Lagipula proses atensi yang menjadi fungsi apperception selalu dapat dikembalikan kepda sensasi menurut Titchener.
Tiga pemikiran utama strukturalisme Titchener: Identifikasi elemen sensation yang mendasar. Semua proses mental yang kompleks dapat direduksi ke dalam elemen mendasar ini. Sebagai contoh, Titchener menemukan 30.500 elemen visual, empat elemen pengecap, dan sebagainya. Titchener menggunakan metode experimental introspection untuk menggali elemen sensasi dasar ini, metode yang dipelajarinya dari Wundt. Namun di tangan Titchener, metode ini lebih elaboratif, karena sifatnya tidak hanya deskriptif tetapi juga analisis yang retrospektif. Identifikasi bagaimana elemen dasar sensasi ini saling berhubungan untuk membentuk persepsi, ide dan image yang kompleks. Hubungan ini bersifat dinamis dan selalu berubah sesuai dengan berubahnya elemen dasar, jadi bukan proses asosiasi. Menjelaskan bekerjanya mind, Titchener tidak setuju bahwa mind dijelaskan melalui proses psikologis (higher mental process) seperti yang dilakukan Wundt. Mind harus dijelaskan berdasarkan proses fisiologis, yaitu aktivitas sistem syaraf. Karena proses fisiologis lebih observable daripada proses psikologis. Aliran strukturalisme tidak berkembang menjadi aliran yang besar. Aliran ini menghilang bersamaan dengan wafatnya Titchener.
Referensi
Saleh, Adnan Chairuddin. 2018. Pengantar Psikologi. Penerbit Aksara Timur.
Sumanto. (2014). Psikologi Umum. Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service.
Harsanti, Intaglia., Anugriaty Indah A., dan Widiastuti. (2013). Psikologi Umum 1. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Komentar
Posting Komentar